21 August 2012
Bagikan informasi kepada sobat-sobat lain mengenai hal ini, informasi ini bukanlah cerita bohongan sebagaimana sobat warsoft jangan bilang tentang sebuah cerita fiksi. Karena apa yang warsoft bagikan informasi ini kepada sobat warsoft semua adalah informasi yang bukan fiksi, cerita nyata tentang apa yang dialami oleh sobat kita. Dia adalah benar-benar sobat warsoft sekaligus guru kehidupan. Tak perlu sobat warsoft tahu nama dia yang sebenarnya. Cukup panggil saja dia A Hun.

A Hun, sobat kita ini, berpesan kepada sobat kita untuk menceritakan apa yang dialaminya agar dapat bermanfaat buat orang lain. Karena apa yang dia alami benar-benar di luar perkiraannya. Ya, A Hun menderita ambeien parah, tak perlu juga saya sebutkan proses keparahannya itu karena saya khawatir kamu yang sedang makan dan membaca tulisan ini jadi tidak bisa makan lagi, karena kamu terlalu serius dan fokus untuk membayangkannya. Ah, masalah ini cukup Dibaca dan didengar saja. Selesaikan saja makan kamu lalu barulah mencoba membayangkannya, tetapi tak perlu mengutarakannya lagi pada saya. Karena saya sudah terlalu banyak menelan segala cerita tentang itu.

Ohya, kembali kepada A Hun—ingat yah dia itu sobat kita karena parahnya itu, berobat ke dokter umum sampai dua kali pun belum bisa membuat pendarahannya berhenti (tak perlu membayangkan lebih dalam lagi). Sampai harus di rujuk ke rumah sakit dan dokter di sana sudah bersedia untuk melakukan operasi kecil pada hari yang telah ditentukan.

Karena sudah trauma dengan selang yang pernah masuk dari alat vitalnya (maaf) waktu dia di opname karena sakit ginjal, maka ia sangat ketakutan sekali mendengar kata operasi ini. Ia pun berdoa agar penyakitnya segera sembuh. Untuk itu ia berusaha pula untuk mencari obat-obatan alternatif atau tradisonal. Dan ia mendapatkan sesuatu yang berharga untuk proses penyembuhannya. Di tengah pencarian itu ia ditelepon dari rumah sakit untuk segera datang ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. A Hun—dia itu teman kita menolak untuk datang dan ia meminta pihak rumah sakit untuk mengundurkan jadwal operasi itu di keesokan harinya saja. Ia bilang ia belum siap mental.

Ya ada sebuah obat tradisonal yang dianjurkan oleh saudaranya untuk mengatasi penyakit ini. Dan alhamdulillah sembuh. Apalagi proses penyembuhannya cepat sekali. Pagi itu sebagaimana dianjurkan oleh saudaranya, A Hun pun membuat obat tradisional tersebut. Apa obat tradisional itu? Dan bagaimana cara membuatnya? Berikut rinciannya:

1. Siapkan 1 butir kelapa tua;
2. Siapkan 1 butir tomat merah;
3. Siapkan gelas;
4. Siapkan sendok.


Itu saja persiapannya. Lalu selanjutnya apa yang harus dilakukan? Berikut ikhtiarnya:

1. Kelapa diparut, diperas, dan santannya dimasak. Lama kelamaan dari hasil pemanasan ini akan muncul minyaknya. Bila selesai masak minyaknya disisihkan di tempat yang telah disediakan.

2. Lalu masukkan 1 butir tomat ke dalam gelas dan masukkan pula satu sendok makan minyak kelapa yang kita buat. Dan tumbuk secukupnya tomat tersebut dengan memakai sendok tersebut. Tidak perlu sampai halus. Yang terpenting bisa ditelan oleh mulut kita dan dimamah dengan baik dalam pencernaan kita.

3. Setelah itu makan hasil olahan sederhana itu. Kamu buat obat itu dua kali sehari, pagi dan malam. Ingat!, baca basmallah terlebih dahulu sebelum menelannya.

4. Senantiasa berdoa.
Apa yang terjadi kawan-kawan di saat A Hun–dia teman saya loh yah–memakan obat tradisonal itu? Yup, alhamdulillah paginya di saat ia memenuhi panggilan alam seperti biasa, buang air besarnya itu sama sekali tidak ada pendarahan, tidak ada rasa sakit yang selama ini membayanginya. Benar-benar luar biasa. Subhanallah. Walhasil ia membatalkan operasi itu. Selama beberapa hari selanjutnya ia tetap meneruskan pengobatan tradisional mandirinya itu. Dan diceritakanlah kesuksesan itu kepada saya dan menyuruh saya untuk menceritakannya kepada orang lain agar asas kemanfaatan ini bisa dirasakan banyak orang.

A Hun, dia itu sobat kita, telah berdoa dan berupaya untuk kesembuhan penyakitnya lalu hasilnya diserahkan kepada Allah. Syukurnya Allah mengabulkan doanya dan menerima ikhtiarnya itu. Lalu agar ia mendapatkan pahala kebaikan lebih, ia memberikan petunjuk atau cara bagus ke arah kebaikan ini kepada orang lain agar orang lain pun merasakan hal yang sama tentang manfaat obat ini. Kata qudwah kita Rasulullah saw: Addaalu ‘alal khoiri kafaa’ilihi 1). Barangsiapa yang menunjuki jalan kepada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu. Luar biasa bukan?

Juga karena A Hun tidak mau dicap sebagai kufur nikmat maka ia mau menyebarkan kebaikan yang ia peroleh itu kepada yang lain. Bukankah Jenderal Besar, teladan kita, Muhammad Saw itu juga pernah bilang: “barangsiapa memperoleh suatu yang makruf maka hendaklah menyebutnya karena berarti dia mensyukurinya, dan kalau merahasiakannya (berarti) dia mengkufuri nikmat itu.” 2)

Jadi, kepada kawan-kawan yang mempraktikkan pengobatan tradisional ini lalu sembuh, alhamdulillah, maka dianjurkan untuk menyebarkan informasi ini seluas mungkin agar pula dapat pahala kebaikan yang lebih besar lagi. Insya Allah.

Cukup sekian dari saya untuk kamu-kamu, kawan-kawan kita dari sobat kita yang bernama A Hun–dia itu sobat kita loh. 

sumber :
1. HR Bukhori.
2. HR. Ath-Thabrani
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara

Baca Artikel Lainnya

0 comments:

Berlanggan Artikel

Enter your email address:

Download Software


Like This Page

Komentar